Wednesday, March 15, 2017

# Asi dan menyusui

Ada perjuangan keras di balik tagar #PejuangASI




Jika search tagar #PejuangASI pasti akan muncul banyak postingan gambar yang bercaption panjang disertai beberapa tagar, salah satunya #PejuangASI.

Tagar yang bukan sekedar tagar. Tagar yang menunjukkan bahwa ada sebuah perjuangan di baliknya. Perjuangan keras untuk tetap bisa menyusui. Perjuangan keras yang harus dilalui demi kelangsungan hidup buah hati.

Entah itu ibu rumah tangga atau ibu bekerja, jika menyusui sudah pasti diiringi dengan beragam perjuangan. Berjuang menahan perihnya luka lecet di awal kelahiran karena pelekatan yang kurang pas.

Berjuang melawan lelah dan kantuk di tengah malam untuk menemani bayi yang hobi begadang. Berjuang mengendalikan mood agar pengeluaran asi tetap lancar. Berjuang di tempat kerja agar tetap konsisten pumping untuk mengumpulkan cc demi cc asip agar pulang membawa botol berisi air kehidupan. Berjuang melawan stressor yang bisa mempengaruhi produktifitas asi. Berjuang dan berdamai dengan segala keadaan demi memberi asupan terbaik di 1000 hari pertama kehidupan buah hati.

Baca juga : Salah satu ikhtiar yang bisa dicoba agar sukses menyusui

Perjuangan-perjuangan yang hanya bisa dirasakan oleh kita, seorang ibu. Mau tidak mau, bisa tidak bisa, ibu yang memilih keputusan untuk memberi asinya pastilah telah siap dengan segala konsekuensinya. Kenyataan bahwa menyusui itu tidak mudah sehingga harus terima dengan segala konsekuensi yang akan dihadapi.

Apakah menyusui itu mudah? Mudah, jika bayi segera mengerti ketika diberitahu bahwa menggigit ketika menyusui itu salah. Mudah, jika bayi bisa diajak kompromi untuk tidak bangun di malam hari karna ibu sudah lelah menemaninya sepanjang hari. Mudah, jika bayi baru lahir bisa diajarkan tentang latch on yang benar sehingga nipple ibu tidak mengalami luka lecet. Mudah, jika bayi yang sedang mengalami fase growht spurt tidak ingin mengganggu ibunya terus menerus di malam hari.

Baca juga : Bayi sedang growth spurt? Ini yang perlu ibu lakukan!

Tapi kenyataannya? Hanya ibu yang tau rasanya.

Pantas saja surga ada di bawah telapak kakinya. Karena di tiap langkahnya, ada perjuangan besar untuk menghidupi kehidupan yang baru.

Perjuangan keras yang menyenangkan, itulah menyusui. Dengan menyusui, ada seorang manusia mungil yang hidupnya bergantung ke ibu. Bergantung dari tiap tetesan asi nya.

Asi yang diciptakan sang pencipta dengan konsep cukup, yang tidak kurang juga tidak lebih. Cukup sesuai kebutuhan bayi seiring usianya. Wajar saja jika sang pencipta tidak menyukai hal-hal yang terbuang sia-sia. Karena begitu berharganya asi, yang mampu menyambung hidup kehidupan baru hanya dengan 100% asi selama 6 bulan lamanya.

Itulah ASI, menyusui dan segala perjuangannya :)


#Happybreastfeeding #PejuangASI

5 comments:

  1. Saya belum pernah menyusui sih (nikah juga belum XD) tapi setiap kali baca soal hal2 semacam ini tahu deh kalo perjuangan ibu belum berhenti setelah proses melahirkan yang mellow.

    Tetap semangat untuk ibu2 di seluruh dunia. Fightinggg~~

    ReplyDelete
  2. Hehe iya mba, rasanya begini ternyata jadi ibu menyusui :D. Btw, makasih sudah mampir mba.

    Fighting juga :)

    ReplyDelete
  3. Rasanya bikin terharu mba, ah meski belum tahu rasanya tapi sangat luar biasa. Semakin sayang kepada ibu

    ReplyDelete
  4. Saya ibu yang sedih. Tidak bisa memberikan ASI maksimal karena entah kenapa tidak keluar

    ReplyDelete
  5. benerrrr. meski SAHM, bukan berarti gampang lancar jaya. Aku pun pernah baby blues karena ASI yang cuma seuprit. Demi kesehatan anak, semangat!

    ReplyDelete

Terimakasih sudah mampir ke rumah. Ada komentar? Silahkan tinggalkan jejak, ya!


Sincerely.
Icha