Seandainya bayi bisa bicara



Bagi pasangan yang sudah menikah, kehadiran buah hati adalah suatu kebahagiaan yang tak ternilai harganya. Apalagi jika memang ditunggu-tunggu kehadirannya.

Punya anak adalah impian semua pasangan. Baik yang baru menikah atau bahkan yang sudah lama menikah, karna anak adalah pelengkap keluarga.

Benar adanya bahwa anak adalah amanah dari sang pencipta. Amanah berupa titipan, titipan pada pasangan yang menurut NYA mampu untuk menjaga, membesarkan serta mendidiknya.

Ibu, salah satu dari 2 manusia yang dipercaya untuk menjaga titipan. Karna anak adalah titipan, sebagai seorang ibu sudah pasti selalu ingin yang terbaik buat anaknya kan? Apapun akan diberikan demi anak. Berjanji ke diri sendiri untuk tidak akan memarahi anak, tetap berkata baik jika anak salah. Janji, janji yang diulang-ulang. Karna faktanya, tidak sedikit ibu yang benar-benar komitmen terhadap janji-janjinya, termasuk saya.

Anak masih kecil belum banyak yang ia mengerti. Ketika anak salah emosi ibu langsung tersulut, marah. Padahal sudah janji untuk tidak mudah marah. Bayi yang sama sekali ga ngerti apa-apa, bahkan dia aja ga ngerti klo lagi disuapi, ketika tangannya gerak-gerak sampe nyentuh mangkuk makanannya lalu jatuh, ibu marah.

Kalau saja anak-anak juga bayi mengerti dan bisa bicara, mereka mungkin akan bilang bahwa suara ibu yang terbalut emosi membuat perasaan mereka jadi sedih. Karna kita pun jika dimarahi orang tua pasti sedih kan?

Dua perjanjian yang sampai saat ini masih sekedar janji; Jangan mudah marah dan jangan maksa untuk makan. Perjanjian yang sebenarnya mudah dilakukan tapi sulit dijalani. Bayi tidak pernah salah, tapi ibunya yang tidak bisa memahami bahwa bayi tidak mengerti apa-apa sehingga tidak bisa menuruti apa yang ibunya mau, ibu jadi marah.

Semua ibu pasti pengen kan anak makan dengan lahap? Ketika bayi lagi males makan, kita paksa makan dengan tetap memasukan paksa sendok berisi makanannya. Lagi-lagi seandainya bayi bisa bicara, mungkin dia akan bilang bahwa dia sudah kenyang, dia tidak nafsu makan, dia tidak suka menunya, dia ngantuk dll. Ibu bukannya mencari tau penyebab anaknya tutup mulut, tapi malah tetap maksa untuk makan dengan dalih agar anaknya kenyang, agar makanannya tidak terbuang. Karna bagi ibu, makan adalah agar anak sehat dan kenyang. Padahal sebenarnya, makan bukan hanya memasukkan nutrisi dan membuat kenyang, tapi lebih dari sekedar itu. Dari makan, anak dapat belajar bahwa makan adalah aktifitas menyenangkan karna dari lapar akan menjadi kenyang, dari sakit menjadi sehat, dari rasa asin jadi tau rasa manis, dari hanya tau ikan bandeng jadi tau tahu tempe. Jika makannya dipaksa, apa anak akan menyukai aktifitas makan? Tidak bu, anakmu tidak mau dipaksa. Apakah ibu mau ketika lagi ga mau makan lalu dipaksa? Bayi belum ngerti dan bisa bicara bu, pintar-pintarlah melihat situasi dan kondisi bayimu. Bukan dikit-dikit marah.

Manusia memang tempatnya salah dan lupa. Jika salah terus, apa dibenarkan? Berhentilah memarahi anakmu, mereka sedang menikmati dunia baru setelah 9 bulan lamanya berada di ruang gelap nan sempit. Jika mereka mengerti, mungkin mereka lebih memilih kembali hidup di ruang gelap dan sempit dari pada harus melihat ibunya terus-terusan meletupkan amarah.

Bu, janji mau menepati dua janjinya?





*Tulisan ini dibuat dan ditujukan untuk penulisnya sendiri, sebagai pengingat bahwa anak dititipkan bukan untuk dimarahi dan dipaksa.

4 comments:

  1. Saya juga belum bisa nahan marah, tapi meskipun marah masih bisa nahan untuk tidak pakai tangan dan bicara tidak baik.

    Tapi anak saya udah 4 tahun sih jadi udah bisa diajak ngomong :)

    Terima kasih sharingnya mak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Susah ya mak nahan untuk tidak marah apalagi anak saya masih 7 bln yang sama sekali ga ngerti apa2. Abis marah terbitlah menyesal. Semoga dikit demi sedikit kita bisa mengurangi emosi ya mak, kasian anak.

      Terimakasih juga sudah mampir mak

      Delete
  2. Meskipun saya belum punya anak, tapi melihat pengalaman teman2 yang sudah punya anak langsung mengingatkanku pada ibu. Ternyata perjuangan ibu luar biasah.. Tidak bisa diganti dengan apapun..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ibu, takkan pernah terganti sosoknya dan sangat luar biasa jasanya. Btw makasih sudah mampir mba

      Delete

Terimakasih sudah mampir ke rumah. Ada komentar? Silahkan tinggalkan jejak, ya!


Sincerely.
Icha